My Life My Beat

January 31, 2007

Dewasakah Kita?

Filed under: Reality

Sejatinya, semakin bertambah usia seseorang semakin kendatl kadar kedewasaannya. Karena pada kenyataannya, kedewasaan tidak bisa terbentuk instan, harus melalui proses sangat panjang, dan logikanya semakin bertambah usia semakin dewasa pula ia..

Tapi jangan salah,, “dewasa” bagi tiap manusia pasti akan berbeda-beda baik ditinjau secara definisi maupun  secara waktu kapan merasakan kedewasaan itu. Maknanya, jia seseorang bisa memanfaatkan dimensi waktu yang tidak pernah berhenti ini dengan baik, kedewasaan hakiki akan didapatkannya. Dia akan menjelma menjadi seorang dengan kepribadian matang, mapan bertindak dan berpikir…Tapi jika tidak, barangkali kedewasaan seorang "dewasa" tidak jauh berbeda dengan kedewasaan yang dimiliki anak-anak berseragam putih abu atau putih biru bahkan. ATAU bahkan sebaliknya, berbagai hal bisa menempa hidup seorang remaja sehingga mencapai tahap kedewasaan jauh lebih cepat dari seharusnya.

Bagaimana dengan kita? 

 

January 29, 2007

Aku Masih Ada Karena Kalian Ada

Filed under: Uncategorized, Reality

Kebahagian terbesar adalah :

  • Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita cintai
  • Berbagi rasa dengan mereka
  • Melihat orang-orang tercinta bahagia
  • Menjaga kebersamaan dengan penuh rasa cinta dan percaya..

    Mine

 

Dan kebahagian terbesar juga adalah manakala keberadaan kita dibutuhkan dan dirasakan bermakna oleh buah hati kita…

Syukuri Apa Yang Kita Punya,…

Filed under: Uncategorized

Sebutlah Rita, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang masih kecil. Belakangan dia merasa berada pada titik puncak kejenuhan dalam keluarga. Masalah yang datang silih berganti tiada hentinya membuat Rita kian sering mempertanyakan makna dan di mana kebahagian keluarga yang seharusnya dia dapatkan.

 

Rutinitas merawat kedua putera kesayangannya, mempertahankan “komunikasi” dengan suami yang tidak seatap dengannya, dan bekerja paruh waktu di sela-sela waktu senggangnya, tak cukup kuat menahan kegamangan dan kejenuhan yang menyerang dirinya.

 

Ada keinginan untuk berontak, atau cari pelampiasan. Tapi nurani Rita juga bergejolak menentangnya. Karena disisi lain, dia juga menyadari, keluarga adalah yang utama buat hidupnya. Dilematis sekali. Hidup Rita benar-benar tersiksa. Dan dia harus melalui semua “ketersiksaan” itu berhari-berhari,,berminggu-minggu,, bahkan sampai tahunan.

 

Rita benar-benar terpuruk. Feel Lonel. Really desperate.. Yang bisa dia lakukan hanya menangis.. berdoa….menangis…..berdoa…begitu seterusnya.. Sampai suatu hari seorang teman “memaksanya”  untuk refreshing beberapa hari menginap di suatu tempat peristirahatan, sendiri tentunya.Tanpa harus berkomunikasi dengan suami,, rekan-rekan kerja atau terlibat kerepotan mengurus kedua buah hatinya…

 

Hari pertama dilalui biasa saja…Hari kedua Rita mulai menikmati “ketenangan” tanpa harus direcoki urusan anak-anak..dan mendengar omelan suami yang memang senantiasa menyalahkannya…

Hari Ketiga..Keempat..Rita serasa di surga..bebas..merdeka…

Hari Ke lima…ada perasaan aneh..dia merasa lagi kesepian…

Hari Ke enam..Rita merasa kesepiannya semakin memuncak…

Hari Ke tujuh,,,Rita kembali menangis..dan berdoa…menangis dan berdoa…

 

Besoknya…Rita memutuskan untuk kembali ke rumah.

Dia baru menyadari keluarga dengan segala permasalahan dan tektek bengeknya adalah hal yang paling berarti buatnya. Dia kangen suara teriakan anak-anak yang rame bertengkar.. Rindu omelan suaminya..Ingin cepat-cepat bisa kembali memasakan makanan kesukaan sang buah hati, walau itu dilakukan sambil repot mengerjakan tugas rumah lainnya.

 

Rita menyadari, semua kejenuhan tidak ada lagi artinya di banding kebahagian hati yang diperoleh ketika bersama-sama orang yang dicintainya. Rita mengerti, hidup tidak selamanya mulus dan mudah. Tidak selamanya kita bisa mendapatkan yang diinginkan. Memiliki orang yang dicintai dan mencintai, itu yang terpenting.

Yang perlu dilakukan olehnya adalah memperbaiki kekurangan dan senantiasa mensyukuri segalanya….

January 28, 2007

Salahkan “Ku”

Filed under: Reality

Menjadi orang yang senantiasa disalahkan..disudutkan.. adalah menyakitkan. Apapun alasannya..apapun bentuknya..terlebih dengan rangkaian kalimat-kalimat dakwaan, jelas akan melukai hati kita…

No Body’s Perfect…Harusnya hal itu diyakini. Tidak ada orang yang tidak pernah salah. Dan di sisi lain, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang senantiasa benar…Nabi aja bisa salah.. apalagi kita yang seorang santri pun bukan..

Jadi,,sebelum melontarkan kata-kata tuduhan,,sebelum lidah terlanjur mengucap kasar..intropeksi dulu dengan apa yang telah kita lakukan, empati terhadap orang yang ingin kita persalahkan. Karena percayalah selalu disalahkan hanya akan melahirkan sakit yang tak pernah bisa tersembuhkan… 

Ibu rumah Tangga, Profesi Juga Kok

Filed under: Opinion

Perjuangan emansipasi oleh banyak kalangan, utamanya kalangan feminisme nyatanya melahirkan suatu fenomena “giatnya” kaum perempuan untuk berkarya dan mengejar karir.

Jelaslah… ini kemajuan  bagus. Kebanggaan besar kalangan perempuan. Usaha pembuktian penyamaan derajat dan kemampuan, sudah menunjukkan hasil. Tapi seiring dengan ini, disedihkan sekali, muncul pula fenomena salah kaprah yang mendeskreditkan bagian penting dari kalangan perempuan sendiri, yakni ibu rumah tangga. Dan luar biasanya, ini dilakukan oleh kalangan perempuan sendiri….

Dulu, kalau di KTP tertulis pekerjaan : ibu rumah tangga bukan sesuatu yang patut dijadikan sumber rasa malu. Sekarang tidak sedikit yang merasa jenggah, atau minder jika harus menyebutkan profesi dirinya “hanya ibu rumah tangga”.

Sebut saja Asri misalnya..enggan berkumpul dengan temen-temen semasa kuliahnya hanya karena ia tidak bekerja. Awalnya biasa-biasa saja. Asri menikmati kesehariannya sebagai seorang istri dan ibu di rumahnya. Aman-aman saja. Dia jalani semuanya. Sampai suatu hari Asri bertemu sahabat lamanya Sinta, yang sukses sabagi Public Relation Officer di sebuah perusahaan ternama. Waktu itu Sinta bertanya, what are you doing Asri? Dan Asri menjawabnya ringan, I’m house  wife.

Sambil mengernyitkan alis Sinta bertanya lagi.. I’m serious Asri.. what are you doing?

Sekali lagi Asri dengan ringan menjawab, I’m house wife…
Spontan Sinta  berujar, “ hanya ibu rumah tangga? maksudku your job Asri…Profesi kamu”

Begitulah, Asri yang semula tidak mempermasalahkan keputusannya  untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dan tidak berkarir di luar, menjadi mulai bertanya-bertanya. Apakah tepat keputusannya? Apakah selama ini ia tekah salah melangkah?
 
Kejadian seperti itu hanya satu dari banyak kejadian yang menunjukkan betapa menjadi seorang ibu rumah tangga sering dianggap pilihan terakhir oleh perempuan yang tidak berdaya memiliki karir. Ketika ada yang bertanya, dengan malu-malu seseorang sering menjawab.. ah saya hanya ibu rumah tangga kok.. saya hanya ngurus rumah dan dapur….

Sebenarnya jika kita memahami betul hakekat fungsi dan peran seorang ibu rumah tangga, tidak ada alas an sedikitpun untuk mendeskreditkannya. Ibu rumah tangga juga profesi. Sama dengan ratusan profesi lain yang saat ini dilakukan perempuan-perempuan lain. Sama dengan sekretaris.. sama dengan teller bank, sama dengan PR atau yang lainnya. Yang membedakannya adalah fungsi, kualifikasi dan ruang lingkup kerjanya. Bahkan jika dilihat dari jam kerja dan tanggung jawab, beban yang diemban oleh seorang ibu rumah tangga begitu tinggi. Jika seorang karyawan bekerja dari jam 09.00-17.00. Seorang ibu rumah tangga bekerja 24 jam.  Tidak jarang ada seloroh mengenai kurangnya jam kerja bagi seorang ibu rumah tangga, saking banyaknya hal yang harus dilakukan.

Jadi sangatlah tidak beralasan jika seorang perempuan malu mengakui dirinya seorang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga juga profesi kok.Tidak bijak jika kita yang sukses berkarir di luar, mendeskreditkan keberadaan kaum ibu rumah tangga. Semua sama, hanya porsi dan situasi kondisi kerjanya yang berbeda. Yang penting bagaimana kita melakukannya dengan penuh tanggung jawab…

 

 

 

January 27, 2007

If You Love Somebody…Set Them Free!!!”

Filed under: Reality

Apa yang harus dilakukan terhadap orang yang kita cintai dan sayangi dengan segenap jiwa?
Menjaganya? Ya lah..pasti…
Menghormatinya? Ya juga…
Memberikan yang terbaik buatnya? Yup…jelas..
Memujinya? Boleh juga untuk menyenangkan hatinya…
Tapi apakah terpikir juga untuk membebaskannya?

Sesungguhnya tak banyak orang yang berpikir untuk memberikan "kebebasan" sebagai refleksi rasa sayang dan cinta kepada orang yang sangat kita kasihi. Ada kalanya semakin kita "merasa" atau "meyakini" mencintai seseorang, semakin besar hasrat kita untuk mengikat sang kekasih sekuat-kuatnya, agar senantiasa berada di gengaman kita..dalam pengawasan kita

Ketika anak-anak beranjak dewasa, orang tua merasa makin was-was karena  waktu untuk bersama dengan mereka nyatanya makin terbatas. Ketika satu di antara mereka memutuskan untuk menjalin keluarga, ada perasaan tidak rela, cemburu, karena setelah sekian tahun menghabiskan suka duka bersama, anak kita akan memulai hidup baru dengan orang lain…

Manakala sang suami lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah bersama orang lain,,sang istri tidak sedikit yang kalang kabut. Terlebih saat suami akhirnya memang memiliki pula kehidupan baru bersama pujaan baru…

Tidak mudah memang menerima kenyataan-kenyataan itu.  Tapi apakah kita harus terpuruk bersama rasa sakit dalam hati kita?

Barangkali sudah saatnya kita mulai belajar memahami dan meyakini, bahwa apa yang kita punya…siapa-siapa yang kita "miliki", orang-orang yang kita cintai, adalah hanya properti sang pencipta yang dititipkan kepada kita…

Kita berhak mencintainya….wajib menjaga dan menghormatinya. TAPI tidak memilikinya dengan rasa berlebihan. Karena yang memiliki semua itu adalah pencipta kita. Kita biarkan dia..biarkan mereka..orang-orang yang kita cintai sebagai teman seperjalanan sampai akhir masa nanti. Saling mengingatkan jika jalan yang dilalui salah…saling memahami jika satu sama lain alpa.Beri mereka kebebasan untuk menentukan langkah..menentukan arah..sepanjang untuk menuju pelabuhan yang sama…

Biarkan rasa kasih dan cinta kita mengalir seiring dengan rasa percaya yang kita berikan kepadanya.. 

So if you love somebody..set them free !!! 

 

 

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham