Ibu rumah Tangga, Profesi Juga Kok
Perjuangan emansipasi oleh banyak kalangan, utamanya kalangan feminisme nyatanya melahirkan suatu fenomena “giatnya” kaum perempuan untuk berkarya dan mengejar karir.
Jelaslah… ini kemajuan bagus. Kebanggaan besar kalangan perempuan. Usaha pembuktian penyamaan derajat dan kemampuan, sudah menunjukkan hasil. Tapi seiring dengan ini, disedihkan sekali, muncul pula fenomena salah kaprah yang mendeskreditkan bagian penting dari kalangan perempuan sendiri, yakni ibu rumah tangga. Dan luar biasanya, ini dilakukan oleh kalangan perempuan sendiri….
Dulu, kalau di KTP tertulis pekerjaan : ibu rumah tangga bukan sesuatu yang patut dijadikan sumber rasa malu. Sekarang tidak sedikit yang merasa jenggah, atau minder jika harus menyebutkan profesi dirinya “hanya ibu rumah tangga”.
Sebut saja Asri misalnya..enggan berkumpul dengan temen-temen semasa kuliahnya hanya karena ia tidak bekerja. Awalnya biasa-biasa saja. Asri menikmati kesehariannya sebagai seorang istri dan ibu di rumahnya. Aman-aman saja. Dia jalani semuanya. Sampai suatu hari Asri bertemu sahabat lamanya Sinta, yang sukses sabagi Public Relation Officer di sebuah perusahaan ternama. Waktu itu Sinta bertanya, what are you doing Asri? Dan Asri menjawabnya ringan, I’m house wife.
Sambil mengernyitkan alis Sinta bertanya lagi.. I’m serious Asri.. what are you doing?
Sekali lagi Asri dengan ringan menjawab, I’m house wife…
Spontan Sinta berujar, “ hanya ibu rumah tangga? maksudku your job Asri…Profesi kamu”…
Begitulah, Asri yang semula tidak mempermasalahkan keputusannya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dan tidak berkarir di luar, menjadi mulai bertanya-bertanya. Apakah tepat keputusannya? Apakah selama ini ia tekah salah melangkah?
Kejadian seperti itu hanya satu dari banyak kejadian yang menunjukkan betapa menjadi seorang ibu rumah tangga sering dianggap pilihan terakhir oleh perempuan yang tidak berdaya memiliki karir. Ketika ada yang bertanya, dengan malu-malu seseorang sering menjawab.. ah saya hanya ibu rumah tangga kok.. saya hanya ngurus rumah dan dapur….
Sebenarnya jika kita memahami betul hakekat fungsi dan peran seorang ibu rumah tangga, tidak ada alas an sedikitpun untuk mendeskreditkannya. Ibu rumah tangga juga profesi. Sama dengan ratusan profesi lain yang saat ini dilakukan perempuan-perempuan lain. Sama dengan sekretaris.. sama dengan teller bank, sama dengan PR atau yang lainnya. Yang membedakannya adalah fungsi, kualifikasi dan ruang lingkup kerjanya. Bahkan jika dilihat dari jam kerja dan tanggung jawab, beban yang diemban oleh seorang ibu rumah tangga begitu tinggi. Jika seorang karyawan bekerja dari jam 09.00-17.00. Seorang ibu rumah tangga bekerja 24 jam. Tidak jarang ada seloroh mengenai kurangnya jam kerja bagi seorang ibu rumah tangga, saking banyaknya hal yang harus dilakukan.
Jadi sangatlah tidak beralasan jika seorang perempuan malu mengakui dirinya seorang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga juga profesi kok.Tidak bijak jika kita yang sukses berkarir di luar, mendeskreditkan keberadaan kaum ibu rumah tangga. Semua sama, hanya porsi dan situasi kondisi kerjanya yang berbeda. Yang penting bagaimana kita melakukannya dengan penuh tanggung jawab…



