My Life My Beat

February 21, 2007

Seandainya Perpisahan Yang Terbaik…

Filed under: Reality

Aku juga ingin mensyukuri pertemuan kita. Kuharap diriku lebih arif. Kusadari tak ada kelebihanku darimu. Pabila aku mampu untuk melakukan lebih, karena dirimu telah membuatku mampu memiliki waktu. Dirimulah yang mengorbankan waktumu, sehingga waktu yang tersisa padaku lebih banyak. Yakinlah Allah maha penghitung; semua kebaikanmu tercatat cermat. Sebenarnya perpisahan ini bukanlah harga mati. Kita masih bisa bersilaturahmi jika kita mau. Sekarang terserah padamu; apakah menempatkan aku sebagai sejarah atau tetap berada di ring utama kehidupanmu. Perlu dua orang untuk berdansa, perlu dua tangan tuk bertepuk. Akhirnya: sampai jumpa di masa mendatang yang lebih baik…

Ini dikutip dari tulisan sangat arif dari Sahabat Masa Kecilku, ( Nuhun nya ka… ). 

Perpisahan sesuatu yang sering dianggap moment menakutkan bagi sebagian besar orang. Pertemuan  pun  sering dikambinghitamkan. Tidak masalah berpisah atau tetap bersama. Leres pisan ka.,perlu dua orang untuk berdansa, perlu dua tangan tuk bertepuk..Tapi kalau dansa dan tepukan yang dihasilkan tidak lagi indah dan harmonis, apakah dansa masih layak untuk terus ditarikan? Tepukan bisa tetap hangat terdengar?

Barangkali saatnya belajar dansa sendiri dengan iringan musik yang bisa tetep membawa harmoni? Entahlah… 

 

 

February 17, 2007

Will You?

Filed under: Reality

Will u blame me if sometimes

            I feel empety

            I feel desperate

            I feel lonely

            I feel bore….

            I feel angry

Will u? Can U understand?

 

 

February 14, 2007

Jomblo Boleh Valentinan Gak?

Filed under: Uncategorized
alone but not lonely
Ada kalanya kita harus bisa menikmati hidup sendiri. Nikmati aja..jalani aja. Alone but not lonely, even in Valentine day..

February 11, 2007

GENETIKA PENENTU PERSONALITY

Filed under: Uncategorized

Hendra dan Hendri sepasang kembar identik yang terpisahkan sejak orang tua mereka cerai 26 tahun lalu. Hendra tinggal bersama keluarga ayahnya   di Surabaya sementara Hendri sang adik kembar menetap bersama ibunya di Bogor.

Selama 26 tahun usia mereka, Hendra dan Hendri sama sekali tidak pernah melakukan komunikasi bahkan dalam bentuk surat sekalipun. Sampai suatu saat, mereka “dipertemukan dalam sebuah acara reuni besar keluarga mereka”. Dan surprise, beliebe it or not… meski belum pernah kontak sekalipun, sepasang kembar identik itu memiliki banyak kesamaan karakter personality.

Hendra dan Hendri sama-sama penggemar musik jazz contemporary, senang mengancingkan kemeja mereka sampai ke batas leher, memiliki pacar dengan tipe yang nyaris sama, suka dengan masakan padang, sampai memiliki koleksi buku sejenis.

Kasus Hendra dan Hendri tadi, menurut kalangan ahli, bukan sesuatu yang luar biasa meski bagi kalangan awam jelas bakal mengundang keheranan luar biasa. Dalam bukunya Organizational Behaviour, Stephen P. Robbins mengatakan, paling tidak, periset telah melakukan penelitian terhadap 100 pasang kembar identik yang terpisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah.

Masih dalam bukunya, Stephen P. Robbins menyebutkan contoh kasus lain yang memperlihatkan keajaiban luar biasa. Ada sepasang kembar yang terpisah selama 39 tahun dan dibesarkan dalam jarak 45 mil. Mereka ternyata  mengendari mobil dengan model dan warna sama, memiliki anjing dengan nama yang sama, dan secara teratur senang berlibur ke sebuah pantai yang sama.

Menurut periset, ini jelas menunjukkan adanya andil factor genetic dalam pembentukan karakter atau ciri personality seseorang walaupun sifat dan kadarnya satu sama lain tidak sama.

Lanjut Stephen P. Robbins,  personality seseorang ditentukan tiga factor yakni genetika, lingkungan dan situasi kondisi. Khusus mengenai andil genetika dalam pembentukan karakter dan cirri personality ditemukan bahwa genetika menghasilkan kira-kira 50% dari perbedaan personality dan lebih dari 30% variasi dalam minat terhadap kedudukan  dan waktu luang, seperti yang terjadi dalam dua kasus tadi.

February 4, 2007

We are not Superman

Filed under: Reality
Menjadi yang terbaik, mengejar ambisi dan selalu berusaha “perfect” tidaklah salah. Sah-sah saja dilakukan oleh siapapun. Bahkan dalam banyak kasus, untuk mencapai sukses dan mengatasai persaingan, sangatlah disarankan.
 
Akan menjadi masalah, manakala semua itu dilakukan tanpa melihat dan memahami konstalasi kepribadian lewat kaca psikologis. Sehingga kita bisa melakukan apa yang kita mau relevan dengan kemampuan yang kita miliki. Dan jelas kita akan terbiasa untuk tidak berharap banyak terhadap diri kita.
 
Seorang perfectionis, berambisi selangit, selalu menekankan pada sesuatu yang terbaik dan menjadikan sesuatu yang dilakukan senantiasa harus super unggul. Bahayanya, jika tidak terkendali dengan baik, dia akan selalu khawatir, was-was tentang apa-apa yang dilakukannya. Kesalahan sekecil apapun seolah menjadi bencana besar buatnya. Dan akan bertambah parah saat ia gagal melakukan sesuatu yang sebelumnya diyakini bisa ia lakukan dengan baik. Tidak sedikit kaum perfectionis, setelah gagal malah menjadi orang dengan self confidence rendah. Malah berabe kan..!!! Jadi berhentilah bersikap seolah kita manusia super. Kita bukan superman atau superwoman. Melakukan kesalahan wajar…
 
Gagal… Tidak menjadi nomor satu dan diunggulkan juga..,,, ya biasa sajalah… Sekali lagi, tidak ada satu manusia pun yang sempurna. Sepanjang kita sudah berusaha maksimal, tidak ada salahnya sekali-kali kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan…





















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham