Seandainya Perpisahan Yang Terbaik…
Aku juga ingin mensyukuri pertemuan kita. Kuharap diriku lebih arif. Kusadari tak ada kelebihanku darimu. Pabila aku mampu untuk melakukan lebih, karena dirimu telah membuatku mampu memiliki waktu. Dirimulah yang mengorbankan waktumu, sehingga waktu yang tersisa padaku lebih banyak. Yakinlah Allah maha penghitung; semua kebaikanmu tercatat cermat. Sebenarnya perpisahan ini bukanlah harga mati. Kita masih bisa bersilaturahmi jika kita mau. Sekarang terserah padamu; apakah menempatkan aku sebagai sejarah atau tetap berada di ring utama kehidupanmu. Perlu dua orang untuk berdansa, perlu dua tangan tuk bertepuk. Akhirnya: sampai jumpa di masa mendatang yang lebih baik…
Ini dikutip dari tulisan sangat arif dari Sahabat Masa Kecilku, ( Nuhun nya ka… ).
Perpisahan sesuatu yang sering dianggap moment menakutkan bagi sebagian besar orang. Pertemuan pun sering dikambinghitamkan. Tidak masalah berpisah atau tetap bersama. Leres pisan ka.,perlu dua orang untuk berdansa, perlu dua tangan tuk bertepuk..Tapi kalau dansa dan tepukan yang dihasilkan tidak lagi indah dan harmonis, apakah dansa masih layak untuk terus ditarikan? Tepukan bisa tetap hangat terdengar?
Barangkali saatnya belajar dansa sendiri dengan iringan musik yang bisa tetep membawa harmoni? Entahlah…



