My Life My Beat

March 31, 2007

FOUR BROTERS by The Manhattan Transfer

Filed under: Uncategorized

Take a seat and cool it ‘cause unless you overrule it
We are ready to show you some blowin’
A rompin’ and a stompin’ is a lot of fun
Four brothers who are blowin’ our horns

So settle down an’ listen ‘cause you don’t know what you’re missin’
And we’re ready to give you a showin’
A movin’ it ‘n groovin’ it has just begun
Four brothers who are blowin’ our horns

We got a little message that you’re gonna enjoy
Ain’t no sense in dodgin’ the facts
So settle in your easy chair an’ if you ever had a care - forget it,
It’s time to relax

We might as well admit it, we’re the best that ever did it
But in case you ain’t too sure a knowin’
We’re gonna let you listen to us one by one
Four brothers who are blowin’ our horns…

Lets Listen The Music

Filed under: Reality

Lagi nostalgia. Seharian nikmati musik jazz favoritku. The Manhattan Transfer. Mulai dari lagu mereka di tahun  80 an seperti Route 66, hits mereka  Four Brothers ,Let-s Hangin On dan The Off Beat of Avenues, sampai lagu teranyar mereka.

Jadi inget jaman dulu. Saat kuliah, waktu masih berjaya di radio siaran, saat kemudian ketemu bapaknya anak-anak. Sweet memories…Bisa gak dapet suasana itu lagi? But any way..selepas dengerin itu musik…lumayan,…bisa relaks dikit…

Musik diakui merupakan salah satu bentuk rekreasi dan relaksasi murah yang disarankan para pakar kejiwaaan, untuk membantu kita mencegah, mengurangi bahkan mungkin bisa ngilangin stress. Rutinas yang bikin boring, lelah nyelesein problem yang rajin datang, sampe clash dengan orang terdekat,  sering jadi pemicu stress. Bikin kita bingung mau ngapain. Dan kalau sudah begini,,gak ada salahnya kita lakuin saran pakar tadi….Lets listen the music….

March 30, 2007

Control Your Stress Before Stress Control You

Filed under: Opinion, Reality

The stress responses starts in the part of your brain which operate your primitive nervous system. It sets off a cascade of energy resource activating functions all aimed at maximizing your ability to fight or flee. - Rob Kall,M.Ed & Rhonda Greenberg, Phd.-

 

Apapun bentuk dan penyebabnya, stress bukan hal sepele yang bisa dibiarkan begitu saja. Kenyataan memperlihatkan, stress yang dibiarkan menggelembung tanpa ditangani dini nyatanya akan mampu mengobrak abrik kehidupan keseharian penderitanya, bahkan mungkin menyuramkan atau mengakhiri masa depannya. Hasil riset menunjukkan, stress tidak hanya menimbulkan dampak psikis tapi juga pisik. Artinya ke ke depannnya…saat stress, yang  sakit bukan hanya jiwanya, tapi juga raganya…

Menurut para periset,  manakala seseorang dilanda stress, kebutuhan tubuh akan vitamin C meningkat tajam. Kita tahu, vitamin c, adalah salah satu unsure yang diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

 

Jadi, bila penderita stress dalam waktu bersamaan tidak mampu menutup kebutuhan asupan vitamin c nya yang makin tinggi, sudah bisa dipastikan kekebalan tubuhnya menurun drastis, hingga rentan terhadap ragam penyakit.

 

 

Stress juga diyakini akan merangsang dihasilkannya hormone adrenalin secara berlebihan dan menyebabkan jantung berdebar cepat. Produksi hormone adrenalin ini akan membutuhkan gizi seperti vitamin B, zinc,  kalium dan kalsium. Artinya, zat-zat gizi dalam tubuh akan terus terkuras untuk memproduksi adrenalin..

Lantas bagaimana cara mengontrol sress agar tidak berkepanjangan?

Menurut periset, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan atau bahkan menghilangkan stress, di antanya :

  1. Be your self. Selalu menjadi diri sendiri, Mensyukuri kelebihan sebagai suatu asset, dan kekurangan sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik.
  2. Tidur cukup. Kurang tidur  bisa mengurangi kemampuan pengendalian diri.
  3. Make good relations. Dengan siapa aja. Terutama orang-orang terdekat kita, seperti pasangan hidup dan keluarga.
  4. Think realistic. Berpikir dan bertindak masuk akal.
  5. Don’t judge your self. Tidak perlu terus menyalahkan diri sendiri
  6. Tuntaskan masalah yang ada. Jangan pernah menyimpan masalah dan mengalihkan ke masalah lain.
  7. Sport
  8. Relaksasi dan rekreasi
  9. Jika perlu, minta bantuan penasihat khusus (concellor)

March 17, 2007

It’s Me

Filed under: Uncategorized


Aku mungkin bukan segelas air dingin yang menyejukkan…

Bukan pula segelas anggur yang bisa menghangatkan…

Kenyataannya..aku juga bukan Siti Khadijah yang arif bijaksana…

Bukan pula Siti Aisyah dengan pribadi mempesona…

Aku..hanyalah pribadi biasa…..bahkan  buatmu aku sarat cela

Namun..dengan sisa asa yang ada….

kan terus ku coba menjadi apa yang kau minta..

Hingga kau inginkan aku tiada….

Desperate Housewife

Filed under: Reality

Seorang ibu ditemukan tewas bunuh diri menenggak racun setelah sebelumnya membunuh keempat putera puterinya dengan racun yang sama. Kesimpulan sementara, si ibu stress, depresi berat karena permasalahan keluarga, hingga memutuskan mengambil jalan pintas itu.

 

Sejumlah pakar  kejiwaaan menyebutkan, depresi menahun dan stress berkepanjangan memang cenderung memicu seseorang ( dalam hal ini lebih banyak melanda kaum perempuan ) untuk berbuat nekad. Ketidakberdayaan dan kurangnya komunikasi dalam keluarga sering jadi pemicu awal terbentuknya depresi tersebut. Dan seorang istri yang umumnya  berada pada posisi “tersudutkan” dengan segala “ketidakmampuannya”, merupakan individu yang paling banyak dilanda depresi rumah tangga ketimbang suami atau anggota keluarga lainnya.

Menjadi seorang istri sekaligus ibu rumah tangga, memang bukan suatu pekerjaan enteng. Tidak ada satu pendidikan formal apapun di manapun yang bisa menjamin bisa melahirkan seorang ibu/istri yang sempurna. Dengan kata lain, seperti halnya individu-individu lain, ibu rumah tangga adalah manusia biasa  dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  

Kalau saja orang di sekitar, terutama suami bisa memahami keadaan ini, niscaya setidakberdaya apapun seorang istri, dia tidak akan merasa menjadi sosok yang gagal dan tidak berdaya. Dan bahkan dengan motivasi-motivasi tertentu, dia akan berusaha menjadi lebih baik. Memang tidak selamanya dia bisa “mengharapkan” motivasi atau bantuan dari pihak lain. Tapi paling tidak, ini semua bisa membantu memunculkan kembali semangat dan kepercayaan dirinya.

Sebaliknya, masalah akan muncul manakala, orang-orang terdekatnya tidak berada dalam posisi mendukung atau memotivasi. Terlebih dengan munculnya aneka permasalahan yang terus melanda. Sementara karena banyak factor, dia senantiasa berada dalam posisi tersudutkan dan disalahkan. Bukan tidak mungkin lambat tapi pasti, akan muncul perasaan “gagal” pada dirinya. Dan percayalah, menanggung perasaan “menjadi seseorang yang gagal” itu merupakan beban sangat besar. Jika tidak segera berhasil diatasi, baik oleh dirinya sendiri maupun bantuan orang sekitar, suami, kerabat atau sahabat yang bisa berpikir objektif, niscaya perasaan “gagal” tadi akan berkembang menjadi putus asa yang mendalam, kelelahan psikologis berkepanjangan. Buntutnya….bukan tidak mungkin memutuskan untuk mengambil jalan pintas seperti ibu dengan empat anak tadi

Fakta lain juga menunjukkan, di Indonesia masih berlaku hukum tak tertulis bahwa istri merupakan personil dalam keluarga yang berkewajiban dan bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga di luar urusan financial yang identik jadi urusan suami. Padahal  realitanya, pembagian tugas dan tanggung jawab seperti ini, tidaklah selamanya bisa diterapkan. Urusan financial maupun managerial rumah tangga lainnya adalah tanggung jawab bersama keluarga

( suami istri) sesuai kapasitas dan kemampuannya masing-masing

March 11, 2007

Yang Tersisa Saat Ini….

Filed under: Reality

Ketika air sudah menjadi api

Api berubah wujud menjadi air

Tanah membatu dan dedaunan membeku…

Ketika  pagi tak kunjung datang dan malam gelap terus membentang…

Ketika hati dan raga terus terlelap tak lagi terjaga…

Dusta mewarnai kata..Kata memulas dusta

Ketika tak ada lagi asa..dan angin membawa tak kembali..

Masih bisakah aku tetap ada?

March 10, 2007

Sehari Bersama Mrs Negatif

Filed under: Reality

Ogah-ogahan  Yuli bangun dari tempat tidurnya. Dengan bersungut-sungut dia bangunkan anak-anaknya. Dibumbui ngomel ini itu, dia siapkan sarapan. Sesaat setelah jemputan sekolah membawa anak-anaknya pergi, omelannya baru berhenti.

Selama dalam perjalanan ke tempat kerja, Yuli berpikir alangkah menjemukan hidupnya. Bangun tidur, bangunkan anak-anak, siapkan sarapan, pergi kerja, pulang ke rumah nyiapkan makan siang anak-anak, kembali ke kantor dengan tumpukan tugas menanti, pulang, nemenin makan dan belajar anak-anak, lantas tidur.Begitu seterusnya. Ahh betapa menyedihkannya hidupku, begitu keluhnya. Alangkah menyenangkannya jika dia bisa sehari saja lepas dari semua itu. Having fun….Tapi sudahlah.. aku tidak cukup punya waktu buat itu..

Ketidakramahan Yuli dan kejemuannya terbawa pula ke kantor. Tugas yang ada dikerjakan asal-asalan. Sapaan rekan-rekan kerja dibalasnya dengan dingin. Dan teguran boss atas kesalahan hasil kerjanya ditanggapi dengan gerutuan. Nyebelin banget !!! Bisa gak sih sehari saja tidak kasih interupsi atau intruksi?? Tapi perintah sang boss akhirnya dia kerjakan juga.

Setelah pulang ke rumah dan nyiapin makan siang buat anak-anaknya, Yuli kembali ke kantor dengan kejengkelan yang sama dengan saat dia datang pagi hari. Bahkan siang itu benar-benar dirasakan sangat menyesakkan. Saat senggang, dia gunakan untuk curhat dengan rekan kerjanya. Mengeluh ini itu seakan dia orang paling menderita di dunia. Dan setelah mendapat sedikit empati dari rekannya, Yuli kembali bekerja. Tapi tetep..masih dengan suasana hati yang buruk.

Malam hari, ketika makan makan bersama anak-anak di sebuat restaurant, Yuli tidak menyentuh sedikitpun makanan di piringnya.  Dia mengernyitkan alis, kenapa anak-anaknya begitu menikmati ayam bakar itu? Ngapain juga sebuah keluarga yang makan di meja sebranganya begitu ceria sampai ngakak ketawa? Alah..buang-buang energi aja, begitu pikir Yuli. Makan malamnya, seperti malam-malam sebelumnya.. berlalu begitu saja.

Sesaat setelah menidurkan anak-anaknya. Yuli kembali sendiri. Pikirannya kembali dijejali ketidakpuasan yang kian hari kian menumpuk. I’m desperate woman. Begitu menyedihkannya aku membuang waktu dan energi tanpa mendapat reward sedikitpun dari orang-orang sekitarku. Begitu memuakkannya hidupku. Ngapain aku banting tulang sementara orang bersenang-senang? Dan akhirnya…..kejengkelan dan keputusasaan, terbawa ke alam mimpi sampai kejengkelan baru menjemputnya di pagi hari berikutnya…..

March 5, 2007

Melepaskan Atau Mempertahankan

Filed under: Opinion, Reality

Mengarungi samudra pernikahan itu ibarat menaiki kereta api eksekutif.  Kalau duduk enjoy  di kursi yang telah disediakan, memanfaatkan fasilitas yang ada dengan benar dan tepat, iklas  “menikmati” goncangan kereta  dan gangguan lain yang mungkin muncul , semua  akan terasa nyaman sampai tujuan. Jika tidak,  bukan tidak mungkin kita akan memutuskan turun dan ganti kereta yang baru.

 

Sebutlah  Indra seorang suami dan bapak muda dengan dua putera yang masih sangat belia. Dalam sebuah percakapan dengan istrinya, Indra  mengeluarkan  pernyataan sekaligus permintaan, ia ingin sekali menikah lagi. Entah sadar atau tidak seberapa besar dampak psikologis pernyataan tersebut terhadap Tina sang istri, pernyataan itu nyatanya kembali  dilontarkan Indra dalam beberapa kesempatan berikutnya.

Tadinya Tina berpikir pernyataan suaminya itu tak lebih iseng belaka. Tapi dengan seringnya Indra melontarkan “kalimat” itu, ditambah kurang “cerahnya” atmosfer pernikahan mereka, Tina menganggap semua itu serius.  Jutaan pertanyaan bergejolak dalam benaknya. Apa benar? Kenapa? Apakah kekuranganku sudah sampai pada taraf tak termaafkan hingga suami harus menambah atau mencari istri pengganti?  Apa aku sudah gagal sebagai istri dan ibu buat anak2nya? Apakah semua ini bentuk hukuman Indra atas “mendungnya” pernikahan kami? Apakah aku harus mengizinkan? Relakah aku? Siapkah aku?

Detik demi detik…semua pertanyaan “tak mengerti” itu menghantui Tina. Di satu sisi, ada keinginan dalam diri Tina untuk mencari tahu semua yang menyebabkan kegalauan hatinya. Tapi di sisi lain, Tina sudah apriori dengan jawaban memilukan. Pernikahannya di ambang kehancuran, suaminya jenuh, butuh pengganti, dan dia harus iklas siap melepaskan suami tercintanya…

Kasus yang dialami Tina..hanya sebagian kecil dari jutaan kasus sejenis yang mengekspresikan betapa sering tidak berdayanya seorang istri saat “dipaksa” atau “diminta” mengizinkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Entah karena betapa besar  cintanya pada sang suami, ketergantungan amat sangat  (terutama finansial), atau  karena harga diri yang terkoyak. Saat itu terjadi, yang dirasakan istri adalah gagalnya dia menjadi istri yang diinginkan suami, jatuhnya kepercayaan diri, perang batin harus mempertahankan atau melepaskan, terpuruk dalam keputusasaan , atau terkadang akhirnya kehilangan kendali diri, mengumbar emosi.

Intropeksi, jelas perlu dilakukan,. Tapi terus menyalahkan diri sendiri, bukanlah tindakan bijak. Meski bukan sesuatu yang mudah dilakukan, berbicara berdua, tanpa orang ketiga atau keempat, tanpa mengedepankan ego dan emosi personal., adalah jalan terbaik. Kalangan concellor pernikahan mengatakan, memikirkan kembali tujuan pernikahan, mencari akar permasalahan, dan mengedapankan kepentingan anak-anak dalam making decision , adalah langkah pertama yang harus diambil manakala pasangan suami istri dilanda masalah serupa ini. 

Kenyataannya memang tidak mudah melakukan semua itu. Perasaan tersakiti dan terabaikan pada sang istri, dan ego tinggi tak mau disalahkan di pihak suami, malah sering mendominasi pembicaraan. Hingga akhirnya bukan solusi yang terealisasi, perang emosi malah  terjadi.

Jadi ingat ungkapan seorang teman terhadap makna perjalanan  pernikahan. Mengarungi samudra pernikahan itu ibarat menaiki kereta api eksekutif. Jadi, kalau dijalani dengan benar, duduk di kursi yang telah disediakan, memanfaatkan fasilitas yang ada dengan benar dan tepat, perjalanan itu akan terasa nyaman sampai tujuan. Tetapi jika kita hanya duduk berdempetan di atas gerbong kereta, tidak berusaha “menyamankan diri”, tidak berkomunikasi baik dengan sesama penumpang lain, jelas perjalanan kereta api dengan kereta api mahal itu pun akan terasa “menyesakkan”. Syukur-syukur bisa selamat sampai tujuan. Bukan tidak mungkin  kita  malah jatuh dari gerbong atau memutuskan  turun dan ganti kereta api lain.

Intinya, semua bentuk pernikahan milik siapapun tak akan lepas dari serbuan masalah. Yang penting dan perlu difahami serta dilakukan pelakunya, adalah senantiasa focus terhadap tujuan pernikahan itu sendiri. Masalah yang muncul bukan diabaikan tapi diselesaikan. Masalah yang ada bukan dijadikan alasan ganti “partner” dan bangun pernikahan baru, tetapi dijadikan motivasi untuk terus selalu memperbaiki atmosfer penikahan mereka. Sangat-sangat tidak gampang…tapi ini memang harus dilakukan.  Butuh kedinginan hati, butuh kedewasaan bertindak dan bersikap, mungkin juga butuh “pengorbanan” perasaan dari salah satu pihak. Tapi semua bentuk pengorbanan  itu tak kan sebanding  dengan kebahagian manakala pernikahan bisa terselamatkan. Lantas bagaimana kalau tetap tak bisa  dipertahankan?

Nge “blog” buat apa sih???

Filed under: Opinion, Reality

Dilihat dari sudut pandang “communications” ada beberapa tujuan orang ngeblog,

  1. To inform. Menginformasikan sesuatu (sharing informasi), termasuk informasi diri sendiri. Bisa personal blog bisa organizational blog.
  2. To educate. Jelaslah, untuk nambah pengetahuan visitor blog. Banyak blog yang contentnya bener2 edukatif loh.Ngasih tutorial atau tips materi tertentu.
  3. To influence. Untuk mempengaruhi opini, atau sikap seseorang. Misalnya dengan nampilin tulisan atau poto2 yang diharapkan bisa merubah opini yang lihatnya. Buat nawarin produk/jasa juga bisa loh.
  4. To entertain. Ngasih hiburan dengan adanya foto2, musik atau informasi menarik. Atau sebaliknya dijadikan ajang hiburan buat pemilik blognya sendiri, semisal buat ajang “Curhat nenangin diri”…
  5. To Make dan Gain Relationship. Dalam  perkembangan selanjutnya, seperti halnya media komunikasi interaktif lainnya, blog juga oleh banyak kalangan dijadikan ajang membuat atau memperluas relasi dan pertemanan. Ajang sosialisasi lah. Bahkan gak sedikit yang akhirnya membentuk satu komunitas tertentu yang berlanjut ke dunia real keseharian.
  6. To build business. Buat ajang berbisnis ria. Hampir sama dengan  to influence. Mulai dari jualan design template blog, jualan produk-produk lain, atau nawarin jasa tertentu.

 

SO, your blog?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham