Mengarungi samudra pernikahan itu ibarat menaiki kereta api eksekutif. Kalau duduk enjoy di kursi yang telah disediakan, memanfaatkan fasilitas yang ada dengan benar dan tepat, iklas “menikmati” goncangan kereta dan gangguan lain yang mungkin muncul , semua akan terasa nyaman sampai tujuan. Jika tidak, bukan tidak mungkin kita akan memutuskan turun dan ganti kereta yang baru.
Sebutlah Indra seorang suami dan bapak muda dengan dua putera yang masih sangat belia. Dalam sebuah percakapan dengan istrinya, Indra mengeluarkan pernyataan sekaligus permintaan, ia ingin sekali menikah lagi. Entah sadar atau tidak seberapa besar dampak psikologis pernyataan tersebut terhadap Tina sang istri, pernyataan itu nyatanya kembali dilontarkan Indra dalam beberapa kesempatan berikutnya.
Tadinya Tina berpikir pernyataan suaminya itu tak lebih iseng belaka. Tapi dengan seringnya Indra melontarkan “kalimat” itu, ditambah kurang “cerahnya” atmosfer pernikahan mereka, Tina menganggap semua itu serius. Jutaan pertanyaan bergejolak dalam benaknya. Apa benar? Kenapa? Apakah kekuranganku sudah sampai pada taraf tak termaafkan hingga suami harus menambah atau mencari istri pengganti? Apa aku sudah gagal sebagai istri dan ibu buat anak2nya? Apakah semua ini bentuk hukuman Indra atas “mendungnya” pernikahan kami? Apakah aku harus mengizinkan? Relakah aku? Siapkah aku?
Detik demi detik…semua pertanyaan “tak mengerti” itu menghantui Tina. Di satu sisi, ada keinginan dalam diri Tina untuk mencari tahu semua yang menyebabkan kegalauan hatinya. Tapi di sisi lain, Tina sudah apriori dengan jawaban memilukan. Pernikahannya di ambang kehancuran, suaminya jenuh, butuh pengganti, dan dia harus iklas siap melepaskan suami tercintanya…
Kasus yang dialami Tina..hanya sebagian kecil dari jutaan kasus sejenis yang mengekspresikan betapa sering tidak berdayanya seorang istri saat “dipaksa” atau “diminta” mengizinkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Entah karena betapa besar cintanya pada sang suami, ketergantungan amat sangat (terutama finansial), atau karena harga diri yang terkoyak. Saat itu terjadi, yang dirasakan istri adalah gagalnya dia menjadi istri yang diinginkan suami, jatuhnya kepercayaan diri, perang batin harus mempertahankan atau melepaskan, terpuruk dalam keputusasaan , atau terkadang akhirnya kehilangan kendali diri, mengumbar emosi.
Intropeksi, jelas perlu dilakukan,. Tapi terus menyalahkan diri sendiri, bukanlah tindakan bijak. Meski bukan sesuatu yang mudah dilakukan, berbicara berdua, tanpa orang ketiga atau keempat, tanpa mengedepankan ego dan emosi personal., adalah jalan terbaik. Kalangan concellor pernikahan mengatakan, memikirkan kembali tujuan pernikahan, mencari akar permasalahan, dan mengedapankan kepentingan anak-anak dalam making decision , adalah langkah pertama yang harus diambil manakala pasangan suami istri dilanda masalah serupa ini.
Kenyataannya memang tidak mudah melakukan semua itu. Perasaan tersakiti dan terabaikan pada sang istri, dan ego tinggi tak mau disalahkan di pihak suami, malah sering mendominasi pembicaraan. Hingga akhirnya bukan solusi yang terealisasi, perang emosi malah terjadi.
Jadi ingat ungkapan seorang teman terhadap makna perjalanan pernikahan. Mengarungi samudra pernikahan itu ibarat menaiki kereta api eksekutif. Jadi, kalau dijalani dengan benar, duduk di kursi yang telah disediakan, memanfaatkan fasilitas yang ada dengan benar dan tepat, perjalanan itu akan terasa nyaman sampai tujuan. Tetapi jika kita hanya duduk berdempetan di atas gerbong kereta, tidak berusaha “menyamankan diri”, tidak berkomunikasi baik dengan sesama penumpang lain, jelas perjalanan kereta api dengan kereta api mahal itu pun akan terasa “menyesakkan”. Syukur-syukur bisa selamat sampai tujuan. Bukan tidak mungkin kita malah jatuh dari gerbong atau memutuskan turun dan ganti kereta api lain.
Intinya, semua bentuk pernikahan milik siapapun tak akan lepas dari serbuan masalah. Yang penting dan perlu difahami serta dilakukan pelakunya, adalah senantiasa focus terhadap tujuan pernikahan itu sendiri. Masalah yang muncul bukan diabaikan tapi diselesaikan. Masalah yang ada bukan dijadikan alasan ganti “partner” dan bangun pernikahan baru, tetapi dijadikan motivasi untuk terus selalu memperbaiki atmosfer penikahan mereka. Sangat-sangat tidak gampang…tapi ini memang harus dilakukan. Butuh kedinginan hati, butuh kedewasaan bertindak dan bersikap, mungkin juga butuh “pengorbanan” perasaan dari salah satu pihak. Tapi semua bentuk pengorbanan itu tak kan sebanding dengan kebahagian manakala pernikahan bisa terselamatkan. Lantas bagaimana kalau tetap tak bisa dipertahankan?