Sehari Bersama Mrs Negatif
Ogah-ogahan Yuli bangun dari tempat tidurnya. Dengan bersungut-sungut dia bangunkan anak-anaknya. Dibumbui ngomel ini itu, dia siapkan sarapan. Sesaat setelah jemputan sekolah membawa anak-anaknya pergi, omelannya baru berhenti.
Selama dalam perjalanan ke tempat kerja, Yuli berpikir alangkah menjemukan hidupnya. Bangun tidur, bangunkan anak-anak, siapkan sarapan, pergi kerja, pulang ke rumah nyiapkan makan siang anak-anak, kembali ke kantor dengan tumpukan tugas menanti, pulang, nemenin makan dan belajar anak-anak, lantas tidur.Begitu seterusnya. Ahh betapa menyedihkannya hidupku, begitu keluhnya. Alangkah menyenangkannya jika dia bisa sehari saja lepas dari semua itu. Having fun….Tapi sudahlah.. aku tidak cukup punya waktu buat itu..
Ketidakramahan Yuli dan kejemuannya terbawa pula ke kantor. Tugas yang ada dikerjakan asal-asalan. Sapaan rekan-rekan kerja dibalasnya dengan dingin. Dan teguran boss atas kesalahan hasil kerjanya ditanggapi dengan gerutuan. Nyebelin banget !!! Bisa gak sih sehari saja tidak kasih interupsi atau intruksi?? Tapi perintah sang boss akhirnya dia kerjakan juga.
Setelah pulang ke rumah dan nyiapin makan siang buat anak-anaknya, Yuli kembali ke kantor dengan kejengkelan yang sama dengan saat dia datang pagi hari. Bahkan siang itu benar-benar dirasakan sangat menyesakkan. Saat senggang, dia gunakan untuk curhat dengan rekan kerjanya. Mengeluh ini itu seakan dia orang paling menderita di dunia. Dan setelah mendapat sedikit empati dari rekannya, Yuli kembali bekerja. Tapi tetep..masih dengan suasana hati yang buruk.
Malam hari, ketika makan makan bersama anak-anak di sebuat restaurant, Yuli tidak menyentuh sedikitpun makanan di piringnya. Dia mengernyitkan alis, kenapa anak-anaknya begitu menikmati ayam bakar itu? Ngapain juga sebuah keluarga yang makan di meja sebranganya begitu ceria sampai ngakak ketawa? Alah..buang-buang energi aja, begitu pikir Yuli. Makan malamnya, seperti malam-malam sebelumnya.. berlalu begitu saja.
Sesaat setelah menidurkan anak-anaknya. Yuli kembali sendiri. Pikirannya kembali dijejali ketidakpuasan yang kian hari kian menumpuk. I’m desperate woman. Begitu menyedihkannya aku membuang waktu dan energi tanpa mendapat reward sedikitpun dari orang-orang sekitarku. Begitu memuakkannya hidupku. Ngapain aku banting tulang sementara orang bersenang-senang? Dan akhirnya…..kejengkelan dan keputusasaan, terbawa ke alam mimpi sampai kejengkelan baru menjemputnya di pagi hari berikutnya…..



