Seorang ibu ditemukan tewas bunuh diri menenggak racun setelah sebelumnya membunuh keempat putera puterinya dengan racun yang sama. Kesimpulan sementara, si ibu stress, depresi berat karena permasalahan keluarga, hingga memutuskan mengambil jalan pintas itu.
Sejumlah pakar kejiwaaan menyebutkan, depresi menahun dan stress berkepanjangan memang cenderung memicu seseorang ( dalam hal ini lebih banyak melanda kaum perempuan ) untuk berbuat nekad. Ketidakberdayaan dan kurangnya komunikasi dalam keluarga sering jadi pemicu awal terbentuknya depresi tersebut. Dan seorang istri yang umumnya berada pada posisi “tersudutkan” dengan segala “ketidakmampuannya”, merupakan individu yang paling banyak dilanda depresi rumah tangga ketimbang suami atau anggota keluarga lainnya.
Menjadi seorang istri sekaligus ibu rumah tangga, memang bukan suatu pekerjaan enteng. Tidak ada satu pendidikan formal apapun di manapun yang bisa menjamin bisa melahirkan seorang ibu/istri yang sempurna. Dengan kata lain, seperti halnya individu-individu lain, ibu rumah tangga adalah manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Kalau saja orang di sekitar, terutama suami bisa memahami keadaan ini, niscaya setidakberdaya apapun seorang istri, dia tidak akan merasa menjadi sosok yang gagal dan tidak berdaya. Dan bahkan dengan motivasi-motivasi tertentu, dia akan berusaha menjadi lebih baik. Memang tidak selamanya dia bisa “mengharapkan” motivasi atau bantuan dari pihak lain. Tapi paling tidak, ini semua bisa membantu memunculkan kembali semangat dan kepercayaan dirinya.
Sebaliknya, masalah akan muncul manakala, orang-orang terdekatnya tidak berada dalam posisi mendukung atau memotivasi. Terlebih dengan munculnya aneka permasalahan yang terus melanda. Sementara karena banyak factor, dia senantiasa berada dalam posisi tersudutkan dan disalahkan. Bukan tidak mungkin lambat tapi pasti, akan muncul perasaan “gagal” pada dirinya. Dan percayalah, menanggung perasaan “menjadi seseorang yang gagal” itu merupakan beban sangat besar. Jika tidak segera berhasil diatasi, baik oleh dirinya sendiri maupun bantuan orang sekitar, suami, kerabat atau sahabat yang bisa berpikir objektif, niscaya perasaan “gagal” tadi akan berkembang menjadi putus asa yang mendalam, kelelahan psikologis berkepanjangan. Buntutnya….bukan tidak mungkin memutuskan untuk mengambil jalan pintas seperti ibu dengan empat anak tadi
Fakta lain juga menunjukkan, di Indonesia masih berlaku hukum tak tertulis bahwa istri merupakan personil dalam keluarga yang berkewajiban dan bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga di luar urusan financial yang identik jadi urusan suami. Padahal realitanya, pembagian tugas dan tanggung jawab seperti ini, tidaklah selamanya bisa diterapkan. Urusan financial maupun managerial rumah tangga lainnya adalah tanggung jawab bersama keluarga
( suami istri) sesuai kapasitas dan kemampuannya masing-masing