My Life My Beat

April 28, 2007

Say “NO”

Filed under: Reality

Mengatakan “tidak” ternyata gak segampang yang kita kira.
Banyak teori dan  tips cara “berkata tidak”. Tapi ya seperti jutan teori sejenis,,,praktek jauh lebih susah dari teorinya…
Ada banyak factor mengapa orang susah berkata tidak. Mulai dari factor personality, psikologis, situasinonal,  factor habits  sampai social budaya…
Rumit ya??? Tapi lepas dari semua factor penyebabnya, kesulitan berkata tidak, memang sudah seharusnya “dikebumikan”. Banyak ruginya, ketimbang untungnya.
Untuk menjaga perasaan seseorang, terkadang kita memang “dituntut’ untuk sedikit memanipulasi perasaan kita, sehingga like and dislike, terpaksa atau gak, akhirnya  kita urung bilang tidak…

Tapi manakala frekuensi sikon tidak menyenangkan seperti itu sudah jauh di ambang batas normal, dan “tingkat kerugian” yang ditimbulkan sudah teramat sangat mengganggu, saatnya mengumpulkan segenap keberanian, jika perlu minta bantuan “pasukan” lain.

 

 

So Say “No”, Right Now!!!

  ***Bisa gak yach????

April 25, 2007

Ultah Ali

Filed under: Reality

Kemarin si kecil Ali  ulang tahun ke 7. Gak ada niat bikin acara ultah tadinya. Tapi tanpa diminta, temen-temennya pada datang ngasih kado. Akhirnya buat nyenengin anak-anak, dibikinlah syukuran kecil-kecilan. Tapi rame juga loh..Ali seneng banget… Ada yang bikin terharu. Waktu potong kue ultah, Ali kayak bingung mau dikasih siapa kue itu. Waktu aku tanya, dia bilang kue itu harusnya buat bapak. Soalnya bapak yang ngasih ini semua kan mah…?..Yup..betul Ade sayang…Harusnya itu buat bapak ….. Mudah-mudahan ulang tahun tahun depan,,,bapak ada dan bisa nikmatin kue pertama dari kamu yach..Amien

Thank’s for everything A….

 

LOVE

Filed under: Uncategorized

By Nat King/Natalie Cole 

 

L is for the way you look at  me
O is for the only one I see
V is very very extraordinary
E is even more than anyone the you adore

Get love is soft that I can give to you
Love  is more than just game for two
Two in love that make it take my heart
But please don’t break it
Love is make for me and you

April 20, 2007

Episode Pernikahan II

Filed under: Reality

Dalam dua bulan  terakhir Arini “disibukan” dengan rentetan sms dan telpon yang benar-baner mengusiknya, sehingga dia harus sering matikan handphone dan telepon rumahnya…

Baru beberapa menit mengaktivkan handphonenya, kembali Arini harus terlibat pecakapan tidak mengenakkan…

 

Arini     : Ada apa lagi ?

Sandra : Loe ngehindar dari gue..gak pernah mau terima telpon gue..

Sandra : Marah apa takut?

……..

……..

Sandra : Loe bisu ya @#$%@%%# ( disensor banyak bahasa kebun binatangnya )

……..

……..

Sandra : Gue gak akan berhenti telpon dan sms loe sampe loe ngomong

Arini     : Baik..apa lagi yang ingin anda dengar?

Arini     :  Saya udah izinin anda dengan suami saya..apa lagi?

Sandra : Gue pengen loe sama dia bener2 bubar. Dia bisa lebih bahagia sama gue           ketimbang loe.

Arini     : Oh ya? Syukur kalau anda bisa bahagiain suami saya…

Arini     :  Silahkan Anda nikmati kebersamaan dengan dia.

Arini     : Tapi tolong jangan ganggu kami (maksudnya Arini dan anak2nya)  dengan sms dan telpon anda…

Sandra : Kenapa? Loe takut?

Arini     : Maaf, saya tidak penah takut dengan wanita seperti Anda..

Sandra : Apa maksud loe wanita seperti gue?

Arini     : KITA SANGAT BERBEDA. Anda tahu itu..

Sandra : @#$%@%%# ( disensor karena kembali  banyak bahasa kebun binatangnya)

 
Jika anda adalah Arini, tepatkah yang dia lakukan? Dan kalau anda Sandra, apa yang harus dilakukan?

 

 

April 14, 2007

Berserah PadaNYA

Filed under: Opinion

Sedikit terhibur meresapi “Takdir” nya Opick….

    Dilempar gelombang
    Dihempaskan angin
    Terkisah kubersedih..kubahagia
    Di indah dunia yang berakhir sunyi
    Langkah kaki di dalam rencananya…
    Semua berjalan dalam kehendakNYA
    Nafas hidup cinta dan segalanya

    Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya Rabbi
    Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya Rabbi

    Bila mungkin ada luka ….coba tersenyumlah
    Bila mungkin tawa ….coba bersabarlah
    Karena air mata tak abadi akan hilang dan berganti
    Bila mungkin hidup hampa dirasa…mungkinkah hati merindukan Dia
    Karena hanya denganNya hati tenang damai jiwa dan raga

 

 

 

April 13, 2007

Episode Pernikahan

Filed under: Reality

 

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku.

Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yg cuma berkamar satu.

Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil.
Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu2.
Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia.
Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening.
Kami mempunyai seorang anak, aku terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang.

Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih di antara kami pun semakin surut.
Ia adalah pegawai sipil.
Setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan sampai di rumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri.
Perkawinan kami kelihatan bahagia.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2.
Liz hadir dalam kehidupanku.
Waktu itu adalah hari yg cerah.
Aku berdiri di balkon dengan Liz yg sedang merangkulku.
Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartement yg kubelikan untuknya. Liz berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis."
Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku akan istriku.
Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis." Berpikir tentang ini, aku menjadi ragu2.
Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.
Aku melepaskan tangan Liz dan berkata, "Kamu haruspergi membeli beberapa perabot, OK? Aku adasedikit urusan dikantor."

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas di pikiranku walaupun
kelihatan tidak mungkin.

Bagaimana pun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun kujelaskan, ia pasti akan sangat terluka.
Sejujurnya,ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam.
Aku duduk santai di depan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2.Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Liz.
Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? "
Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara.
Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh darinya.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi kantorku, Liz baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan
berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan nya..
Ia kelihatan sedikit curiga.
Ia berusaha tersenyum kepada bawahan2ku.
Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Liz berkata padaku,"Ceraikan dia, OK? Lalu kita akan hidup bersama."
Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,
"Ada sesuatu yg harus kukatakan". Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara.
Sekali lagi aku melihat ada luka di matanya.
Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.
"Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut, "Kenapa?"
"Aku serius," aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah.
Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki2!"
Pada malam itu, kami sekali saling membisu.
Ia sedang menangis..
Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Liz. Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan surai perceraian, istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..


Aku merasakan sakit dalam hati.
Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku.
Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan.
Akhirnya ia menangis dengan keras di depanku, di mana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya.
Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku.
Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi .. Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah
menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu.
Karena capek aku segera ketiduran.
Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis.
Aku tertidur kembali.
Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.
Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan
pendidikannya, dan liburannya adalah sebulan lagi, sehingga ia tidak ingin
anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,
"Apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita
ketika pada hari pernikahan kita?"
Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku di lenganmu", katanya,
"Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada
waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu ."
Aku menerima dengan senyum.
Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Liz soal syarat2 perceraian dari istriku.
Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.

"Bagaimana pun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," katanya mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak.
Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu.
Kami saling menganggap orang asing.
Jadi ketika aku membopongnya di hari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, "Wah, papa membopong mama, mesra sekali."
Kata2nya membuatku merasa sakit..
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,
"Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan ini kepada anak kita."
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu.
Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah.
Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di bajunya.
Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini.
Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun di luar sedang dibongkar, hati2 kalau kamu lewat
sana."
Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku
di lenganku.

Bayangan Liz menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
seperti, di mana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus hati2
saat memasak, dll.
Aku mengangguk.
Perasaan kedekatan terasa semakin erat.
Aku tidak memberitahu Liz tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya.
Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat.
Aku berkata padanya, "Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang."
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar.
Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok.
Lalu ia melihat, "Semua pakaianku kebesaran."
Aku tersenyum.
Tapi tiba2 aku menyadarinya ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit..
Tanpa sadar kusentuh kepalanya.
Anak kami masuk pada saat tersebut."Pa, sudah waktunya membopong mama keluar."
Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting.
Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat.
Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir.
Aku menyanggah ia di lenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang
duduk ke teras.
Tangannya memegangku secara lembut dan alami.
Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami.
Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat.
Anak kami telah kembali bersekolah.
Istriku berkata, "Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua".
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra."

…………………………………..

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya.
Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah.
Aku menaiki tangga.
Liz membuka pintu.
Aku berkata padanya, "Maaf Liz, aku tidak ingin bercerai. Aku serius".
Ia melihat kepadaku, kaget.
Ia menyentuh dahiku, "Kamu tidak demam".
Kutepiskan tangannya dari dahiku, "Maaf Liz, aku cuma bisa bilang maaf kepadamu, aku tidak ingin bercerai.
Kehidupan rumah tanggaku membosankan karena ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.
Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu."
Liz tiba2 seperti tersadar.
Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya pun meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor.
Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, kupesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis,
"Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."

April 10, 2007

What Should I do?

Filed under: Reality


Masalah bukan untuk dihindari

Bukan pula untuk diingkari dan dibawa pergi…

Namun..andai semua datang bertubi-tubi..

Pengecutkah jika kita berlari?

April 9, 2007

Judulnya “KANGEN”

Filed under: Reality

Tidak ada lagi perasaan lain yang ingin kuungkap untukmu..

We really need you besides us

We really want to spent all the time together just like we did

We miss u so much…

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham