Episode Pernikahan
|
|
Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih di antara kami pun semakin surut. Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Bagaimana pun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun kujelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? " Sekali lagi, Liz berkata padaku,"Ceraikan dia, OK? Lalu kita akan hidup bersama." |
Aku merasakan sakit dalam hati.
Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku.
Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan.
Akhirnya ia menangis dengan keras di depanku, di mana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya.
Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku.
Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi .. Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah
menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu.
Karena capek aku segera ketiduran.
Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis.
Aku tertidur kembali.
Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.
Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan
pendidikannya, dan liburannya adalah sebulan lagi, sehingga ia tidak ingin
anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,
"Apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita
ketika pada hari pernikahan kita?"
Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku di lenganmu", katanya,
"Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada
waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu ."
Aku menerima dengan senyum.
Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Liz soal syarat2 perceraian dari istriku.
Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.
"Bagaimana pun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," katanya mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak.
Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu.
Kami saling menganggap orang asing.
Jadi ketika aku membopongnya di hari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, "Wah, papa membopong mama, mesra sekali."
Kata2nya membuatku merasa sakit..
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,
"Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan ini kepada anak kita."
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu.
Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah.
Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di bajunya.
Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini.
Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun di luar sedang dibongkar, hati2 kalau kamu lewat sana."
Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku
di lenganku.
Bayangan Liz menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,
seperti, di mana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus hati2
saat memasak, dll.
Aku mengangguk.
Perasaan kedekatan terasa semakin erat.
Aku tidak memberitahu Liz tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya.
Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat.
Aku berkata padanya, "Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang."
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar.
Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok.
Lalu ia melihat, "Semua pakaianku kebesaran."
Aku tersenyum.
Tapi tiba2 aku menyadarinya ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit..
Tanpa sadar kusentuh kepalanya.
Anak kami masuk pada saat tersebut."Pa, sudah waktunya membopong mama keluar."
Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting.
Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat.
Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir.
Aku menyanggah ia di lenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang
duduk ke teras.
Tangannya memegangku secara lembut dan alami.
Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami.
Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat.
Anak kami telah kembali bersekolah.
Istriku berkata, "Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua".
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra."
…………………………………..
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya.
Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah.
Aku menaiki tangga.
Liz membuka pintu.
Aku berkata padanya, "Maaf Liz, aku tidak ingin bercerai. Aku serius".
Ia melihat kepadaku, kaget.
Ia menyentuh dahiku, "Kamu tidak demam".
Kutepiskan tangannya dari dahiku, "Maaf Liz, aku cuma bisa bilang maaf kepadamu, aku tidak ingin bercerai.
Kehidupan rumah tanggaku membosankan karena ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.
Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu."
Liz tiba2 seperti tersadar.
Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya pun meledak.
Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor.
Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, kupesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan?
Aku tersenyum, dan menulis,
"Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."



