My Life My Beat

September 12, 2007

Hati-Hati Dengan Rasa Permusuhan

Filed under: Reality

Ini pernah aku postingin di sini. Sengaja aku post ulang, untuk seorang sahabat yang lagi dalam taraf “perenungan”. Mudah2an cepet selesai masalahnya

Di usianya yang masih di bawah 40 tahun, Andi seorang yang cukup sukses. Punya banyak pengalaman dan penghasilan tinggi. Tapi ada satu hal yang sering membuat lingkunganya mengernyitkan alis. Andi kerap kehilangan pekerjaan. Ia hanya bisa bertahan di sebuah perusahaan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Walaupun dia akan cepat mendapatkan ganti pekerjaan, tetapi sekali lagi, ia akan kehilangan pekerjaan itu. Kalau tidak mengundurkan diri,, ya dipecat. Begitu seterusnya….
Sampai pada suatu ketika, sebelum memecatnya, perusahaan tempat Andi bekerja mengirimnya ke seorang psikolog untuk mengetahui ada apa dibalik sikap Andi yang kerap menyebalkan itu, sehingga sering mendorong pimpinan perusahaan untuk memecatnya. Dalam percakapan selama beberapa jam dengan psikolog, mencuatlah perasaan permusuhan yang amat sangat dari dalam diri Andi,., dan ini bisa terlihat dari kalimat-kalimat yang dilontarkannya…
Ketika ditanya mengapa ia sering meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, Andi dengan cuek menjawab, “semua pimpinannya menyebalkan. Dan saya yakin Anda juga akan membencinya”…
Saat sang psikolog menanyakan komentar tentang pimpinan yang baru, Andi menjawab lantang,” manager saya tidak cukup punya kemampuan”..
Dan jawaban negatif bernada permusuhan itu terus keluar dari mulut Andi sepanjang percakapan berjam-jam dengan psikolognya.
Beberapa penelitian menunjukkan, rasa permusuhan dan marah yang tidak terkendali seperti yang terjadi pada Andi bukan tanpa sebab. Dan penyebab yang paling dirasa significan, adalah hal atau kejadian menyakitkan yang pernah dialaminya. Apapun itu. Seperti yang dituangkan dalam buku It’s Me, A Guide to Better Understanding Yourself, Michael J Gelb mengatakan, keadaan atau peristiwa menyakitkan adalah penyebab kemarahan dan permusuhan.
Keadaan menyakitkan ini bisa berupa pengalaman “diasingkan” lingkungan dan keluarga, kecemburuan terhadap kesuksesan saudara atau rekan, tekanan tinggi saat masa kanak-kanak dan remaja oleh orang tua. Yang jelas, peristiwa masa lalu yang membuatnya merasa tersiksa dan sakit hati.

Rasa sakit ini terus mengendap dalam diri mereka. Dan jika tidak bisa terlupakan atau tersalurkan secara positif, malah akan meledak sewaktu-waktu dalam bentuk kemarahan dan permusuhan terhadap orang-orang di sekitarnya. Baik lingkungan keluarga, pertemanan atau pekerjaan seperti yang dialami Andi.
Lantas apa yang harus dilakukan jika kita memiliki masalah psikologis seperti itu? Jawabannya sederhana. Belajar kendalikan emosi dan kemarahan, selain belajar menerima kenyataan pahit kita di masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup kita, dan bukan sebagai sesuatu yang senantiasa akan membebani hidup jiwa kita. Bukan hal yang mudah memang, tapi memulainya semenjak dini akan menjadi penyelamat bagi ketengan jiwa kita di masa kini dan akan datang

Menanti Sang Bos

Filed under: Reality

Rencana kedatangan “bos besar” (maksudnya bapaknya anak2) dalam waktu dekat, meniupkan atsmosfer baru di rumah. Anak2 semangat banget nunggu moment penting itu. Si sulung Kiki rajin amat beres2 kamar (biar dapet image bagus dari bapaknya kaliii.. ) Si bontot ALI lain lagi…dia sibuk ngelarang temen2 nya metikin jambu dan mangga di halaman depan. Alasannya? buat bapak. Padahal hapal wajah bapaknya aja belum tentu ( maklum bapaknya pergi pas dia baru belajar jalan..)
Perasaan aku sendiri? gak bisa dijelasin dengan kata2… Seneng jelaslah. Tapi honestly.. ada kekhwatiran bakal susah adaptasi lagi. nich
Sekian tahun udah biasa sendiri. Biasa bebas dalam artian tanpa ada kewajiban ini itu…(maksudnya yang berkaitan dengan kewajiban istri ke suami). Hope everything will be ok lah…

September 1, 2007

Thanks say….

Filed under: Reality

Si kecil ALI sering sekali ngasih kejutan.
Minggu kemarin sepulang maen, dia bilang, “Mah aku punya temen baru. Aku besok mau diajak naek kerbau loh mah.’’ . Sontak naluri keibuanku lansung bereaksi. Apa2 an nih anak, temenan kok sama pengembala kerbau. Gimana kalau gini..gimana kalau gitu.. Ihh kayak gak ada temen lain lagi. Tapi kegusaranku gak aku ekspresikan di depannya. Aku cuman bilang, gak usah ikut naek kerbau. Kerbau maenannya lumpur, ntar gatel2. Ade kan paling gak kuat kalau gatal ( Kebetulan nih, si bontot kulitnya peka banget, gak bisa kotor dikit atau digigit serangga dikit, pasti langsung gatel2).
Ali akhirnya ngikutin laranganku. Dia gak ikut naek kerbau sama temen-temennya…Well aku tenang.
Tapi selang beberapa kemudian, aku dibikin was-was lagi. Sampai menjelang Ashar, sehabis sekolah dia maen gak pulang-pulang. Karena khawatir aku nyari dia kemana-mana, termasuk ke kawasan persawahan yang letaknya belakang komplek perumahan. Di sana ada Seorang petani, yang lagi garap sawah. AKu lantas nanya kira-kira si bapak lihat anaku gak. Bapak ini ( aduhh namanya lupa gak aku Tanya) bilang, oh kalau anak itu lagi main di rumah saya bu, sama anak saya, katanya sembari menunjuk sebuah rumah sangat-sangat sederhana tak jauh dari pesawahan.
Sampe di rumah bapak ini, aku lihat anaku lagi asik maen ulartangga barengan beberapa temennya, termasuk “ si anak yang aku bilang pengembala kerbau tadi”. Mereka lagi duduk di lantai semen, di sebuah ruangan yang gak jelas apa itu kamar tamu, ruang tidur atau dapur???
Belum sempet ngomel, si Ali ngomong gini nih, “mah enak loh, biar gak ada ac, rumahnya adem’. Nah loh….Speechles, gak tahu mau ngomong apa..
Omongan anaku itu nyatanya nyadarin aku banyak hal. Para orang dewasa, sering banget mendeskreditkan seseorang dari “kelayakan materi’, dalam sosialisai juga gitu, pilah pilih karena dasar materi…anaku bisa buktiin bahwa berteman bisa dengan saiapa aja termasuk yang katanya “tidak layak’ secara materi..ketenangan dalam rumah gan juga gak jaminan 100%karna materi yahhh….
Malu banget,,,disentil sama anak kecil. Tapi di luar itu, harusnya say thank you sama si bontot..makasih ya de….
Ali






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham